Sampai Kapan Harus Impor Daging Sapi?

impor daging sapiMenurut data yang dikeluarkan Direktorat Jenderal Peternakan Indonesia, menyebutkan bahwa produksi daging sapi nasional tahun 2010 adalah sebesar261.627 ton. Padahal setiap tahunnya masyarakat Indonesia membutuhkan sekitar 350.000-400.000 ton daging sapi. Adanya kesenjangan antara permintaan dan pasokan inilah yang kemudian membuat pemerintah mengeluarkan kebijakan impor daging sapi, untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Oleh karena itu, di pasaran kini terdapat dua pilihan daging sapi, yaitu daging sapi lokal dan daging sapi impor. Menurut aturan internasional, ada dua pola impor daging sapi yang berlaku, yaitu pola impor daging sapi berbasis zona (zone based) dan berbasis negara (country based). Pola zona berarti bahwa pernyataan impor daging sapi yang bebas penyakit kuku dan mulut (PMK) ditentukan berdasarkan wilayah dalam satu negara, sedangkan berbasis negara impor daging sapi bebas PMK ditentukan berdasarkan seluruh wilayah di negara pengimpor.

Indonesia sendiri merupakan negara penganut pola impor daging sapi berbasis negara, artinya selama ini impor daging yang dilakukan di Indonesia berasal dari negara-negara yang telah bebas sapi gila, PMK, dan penyakit-penyakit lainnya yang dapat membahayakan manusia, contohnya negara Selandia Baru dan Australia. Sebenarnya di Indonesia sendiri terdapat beberapa jenis sapi lokal yang telah beradaptasi dengan baik terhadap lingkungan setempat, sehingga berpotensi untuk diternakkan menjadi sapi pedaging.

Beberapa jenis sapi lokal yang dianggap sebagai jenis unggul adalah sapi Bali, Sumba Ongole (SO), Peranakan Ongole (PO), sapi Aceh, dan sapi Madura. Masing-masing dari jenis sapi lokal tersebut memiliki keunggulan yang berbeda-beda. Contohnya, sapi Bali yang memiliki tulang lebih kecil dibandingkan sapi jenis lain tetapi memiliki daging lebih banyak, atau sapi Peranakan Ongole yang mempunyai kualitas daging yang paling baik. Jika menyimak lebih lanjut, ada beberapa perbedaan antara daging sapi lokal dengan daging sapi impor. Dari segi tekstur, daging sapi impor memiliki tekstur yang lebih lembut dibandingkan daging sapi lokal. Perbedaan tekstur ini disebabkan karena selama proses beternak, sapi impor lebih terjamin dalam penanganannya sehingga otot sapi impor tidak sekeras sapi lokal. Untuk ketebalan dagingnya, daging sapi impor memiliki ketebalan daging yang lebih banyak daripada daging sapi lokal, karena pakan yang diberikan telah terstandarisasi dengan baik.

Namun, bagi kaum muslim keberadaan daging sapi lokal lebih dipercaya daripada daging impor. Hal ini dikarenakan cara pemotongannya telah sesuai dengan kaidah Islam dan diawasi oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI). Begitu juga terhadap kesegaran daging, daging sapi lokal umumnya dijual secara langsung dalam bentuk segar sehingga gizi dan cita rasanya masih baik, dibandingkan daging impor yang dijual dalam kondisi beku. Dengan semakin banyaknya pilihan jenis daging sapi disertai dengan keunggulan masing-masing tersebut,membuat konsumen dapat memilih daging mana yang sesuai dengan kebutuhannya. Apakah memilih daging sapi lokal atau daging sapi impor. Akan tetapi, melihat potensi dari daging lokal maka sudah seharusnya Pemerintah menggiatkan program budidaya sapi lokal agar tidak selamanya tergantung kepada impor daging sapi. Disamping untuk memenuhi kebutuhan daging dalam negeri, kegiatan budidaya ini juga diharapkan dapat menyerap sektor tenaga kerja sehingga akan mengurangi jumlah pengangguran.

Share This Post

Recent Articles

Leave a Reply

© 2016 Perlu Tahu. All rights reserved. Site Admin · Entries RSS · Comments RSS
Powered by WordPress · Designed by Theme Junkie